Oh Ibu...

Made by " England Admirer "  

                 ( Maulina  Fathudin )

Anak yang sedang duduk di depan meja belajarnya itu adalah Haris. Sejak ia berumur 3 tahun, ayah dan ibunya sudah bercerai. Sekarang ia hanya tinggal bersama ibunya, karena adiknya telah meninggal pada saat ia berumur 9 tahun yang disebabkan karena gizi buruk. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang berada jauh dari keramaian kota. Ia selalu mengingat pesan ayahnya untuk selalu membahagiakan ibunya. Ibunya hanya berprofesi sebagai seorang buruh cuci. Dan di bulan Ramadhan ini, Harun bercita-cita untuk membelikan ibunya sebuah baju baru untuk Hari Lebaran nanti. Ia sengaja bekerja mulai dari pukul 7 malam sampai dengan pukul 3 pagi sebagai penyemir sepatu. Profesinya ini telah ia jalani sejak ia berumur 8 tahun. Syukur ia telah mempunyai pelanggan setia yang selalu membutuhkan jasanya. Biasanya ia bekerja di sepanjang jalan Asia-Afrika. Sebenarnya ia merasa sedih karena tidak dapat menjalankan shalat tharawih seperti anak-anak lainnya. Namun itu semua ia lakukan demi sang Ibu dengan tulus ikhlas.
Pada suatu hari, ketika ia akan pulang menuju rumahnya tiba-tiba ia dihadang oleh sekelompok preman yang berbadan besar. Uang hasil kerja kerasnya akan diambil oleh para preman-preman tersebut.Tetapi ia melawan dan berusaha melarikan diri. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil menghindar dari preman-preman itu, namun kotak yang biasa ia gunakan untuk menyemir jatuh tertinggal di antara preman-preman itu.Tetapi, syukurlah preman-preman itu tidak berhasil mendapatkan uang hasil kerja kerasnya. Karna kejadian tadi, Harun terlambat sampai rumah. Ia pun tak sempat saur. Tetapi ia tetap menjalankan puasa  seperti biasanya. Sesampainya di rumah ia langsung bersiap-siap untuk pergi berangkat sekolah. Seharusnya sekarang ia sudah duduk di bangku SMP, tetapi karena terbatasnya biaya sekarang ia masih duduk di kelas 3 SD. Untungnya terdapat program beasiswa yang bisa membantunya untuk bersekolah. Kalau tidak, mungkin sekarang ia tidak bersekolah.Walaupun ia tertinggal, tetapi semangatnya tidak pernah habis. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu untuk menjadi seorang Arsitek.<div class ="fullpost">
Sepulang sekolah, ia kembali bekerja. Namun pekerjaannya yang satu ini berbeda dengan pekerjaan yang biasa ia lakukan tiap malam. Ia bersama dengan temannya  Farid pergi mencari paku-paku yang bergeletakan di jalan dengan menggunakan sebuah besi berani yang cukup besar. Setelah 2 jam lamanya ia bekerja, paku-paku yang  ia dapatkan tadi, dijualnya kepada pedagang di sebuah Toko Bangunan. Tiba waktunya untuk berbuka puasa. Ia berbuka puasa bersama ibunya di depan Masjid Raya Banten. Masjid tersebut adalah masjid terbesar yang terdapat di kota Banten. Alhamdulillah berkat hasil kerjanya tadi siang, hasilnya ia gunakan untuk membeli lauk berbuka puasa yang sudah lama diidam-idamkan ibunya yaitu Ayam Goreng. Selama ini ibunya tidak pernah makan dengan lauk tersebut. Dan ternyata ibunya memberikannya hadiah sebuah kotak semir baru. Betapa senangnya hati Harun karena mendapatkan kotak semir itu. Artinya,ia bisa kembali menyemir seperti biasanya lagi.
Pada malam harinya, ia kembali bekerja di sepanjang jalan Asia-Afrika. Namun berbeda seperti malam-malam biasanya,pada malam ini ia bekerja ditemani oleh ibunya. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 3 pagi, ia dan ibunya pulang ke rumah. Ia saur bersama ibunya yang hanya ditemani oleh sebungkus nasi putih dan krupuk saja. Serta 1 gelas air putih. Walaupun hanya ditemani dengan lauk yang seadanya, Harun tetap senang menjalani itu. Baginya tidak penting ia makan dengan lauk apa,asal saurnya itu selalu ditemani oleh ibu dan ada niat yang selalu menyertai.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah ia langsung pergi ke sebuah toko baju. Ia berharap uang yang telah ia kumpulkan bisa cukup untuk membelikan ibunya sebuah baju. Dan Syukur Alhamdulillah,ternyata uang tersebut cukup dan ia langsung berlari menuju rumah untuk cepat-cepat memberikan baju tersebut kepada ibunya. Karena terharu mereka saling berpelukan sambil menangis tersedu-sedu. Ibunya sangat  senang dan berterimakasih kepada Harun. Beliau sangat bangga mempunyai anak seperti Harun. Dan ia berharap Harun dapat menjadi Arsitek terkenal seperti apa yang dicita-citakannya selama ini.</div>


                                           

0 Response to "Oh Ibu..."

Posting Komentar